Ternyata_Aku_Tumbal_Ke_7_Suamiku
Part-1
"Turunlah, kita sudah sampai!"
Ringkikan kuda terdengar nyaring saat kusir menarik tali hingga terasa mencekik.
Suamiku melompat dari andong yang membawa kami menuju jalan desa rumah mertuaku. Rumah yang seumur pernikahan kami belum pernah ku sambangi sama sekali.
Hampir tiga tahun pernikahan kami, suamiku Tidak pernah sama sekali mengajak pulang ke kampung tempat asalnya.
Bahkan jangan tak percaya, bertemu dengan sang mertua pun ia belum pernah. Mas Arjuna selalu mengelak jika aku merengek minta ikut pulang ke kampung dan bertemu ibunya.
"Satu-satunya jawaban Mas Juna adalah," Renjana, belum saatnya kamu bertemu dengan ibuku dan datang ke kampungku," kalimat singkat padat dan jelas yang selalu menjadi satu-satunya jawaban yang ia berikan selama ini.
Jika aku ngotot ingin tahu alasannya maka ia hanya akan bilang," Jika sudah saatnya maka tanpa kamu minta, Mas, akan bawa kamu pulang ke kampung dan bertemu dengan ibuku, Jana!"
Dan seperti biasa aku hanya terdiam, tak lagi bertanya apapun lagi karena aku tau semua akan sia-sia saja.
Tak pernah ada alasan logis yang terlontar dari Mas Arjuna, selama ini hanya dua kalimat itu lah yang menjadi senjata andalannya menenangkan diriku agar tak lagi meributkan hal yang tak penting menurut versinya.
Dan kini tepat setelah tiga tahun usia pernikahan kami, entah tiba-tiba dapat angin surga dari mana, secara tiba-tiba Mas Arjuna memintaku ikut pulang kampung dan bertemu keluarga besarnya.
Mertuaku, bernama Laksmi berusia kurang lebih lima puluh tahun, wanita yang hanya aku kenali lewat foto tanpa pernah melihat sosoknya yang asli.
Akhirnya kini aku sudah berdiri tepat di halaman rumah mertua yang sejak dulu ingin aku kunjungi. Karena bagaimanapun aku ingin menjadi menantu yang berbakti pada sang mertua.
Aku terdiam sesaat melihat rumah dengan bentuk Joglo berdiri gagah dihadapanku. Rumah itu terlihat wingit secara kasat mata entah apa penyebabnya.
Mungkin karena banyak pohon-pohon berdaun rimbun yang semakin terlihat menyeramkan. Angin malam membuat desauan suara gesekan dedauan salah satu penyebabnya.
"Hoo ... Hoohoo ... Hoooo!"
Tubuhku sedikit mengerut, suara burung hantu membuat malam semakin mencekam, mampu meremangkan bulu kudukku.
"Mas ... Mas Juna, kamu dimana?"
Tak ada jawaban dari suamiku.
Aku menoleh mencari sosok suamiku yang entah raib kemana. Jangankan sosoknya, bayangannya pun tak nampak.
"Malah kemana Mas Juna, masak aku ditinggal sendirian," gumamku setengah menggerutu.
Ringkikngan kuda kembali terdengar, kali ini semakin menggila.
“Diam-diam,” suara kusir andong berteriak keras.
Kedua kaki kuda bagian depan terangkat tinggi. Tampak kusir kuda kewalahan menanganinya.
"Husttt! Hussttt!"
"Ck ... Ck! .... Ck!"
Sang kusir berkali-kali ia berusaha menarik kuat tali agar sang kuda tak lepas dari ikatan. Tampak ia berusaha mengerahkan semua kekuatan untuk menenangkan kudanya.
"Pak, perlu dibantu?" Tanyaku seraya mendekat, iba saja melihat lelaki tua itu tampak kewalahan. Walaupun aku sendiri pun tau, jika aku yang hanya seorang wanita yang dengan kekuatan yang kumiliki tak akan bisa membantunya.
“Ada yang bisa kubantu, Pak!” tawarku untuk kedua kalinya.
"Pak ...!" Panggilku sekali lagi karena lelaki itu tak memberikan jawaban.
"Pergilah Neng, jangan hiraukan Bapak, pikirkan keselamatanmu, jangan pikirkan keselamatanku," ujarnya seraya sibuk menenangkan kuda yang semakin beringas.
Kedua alisku tertaut lengkap dengan dahi berkerut, heran dengan kata-kata yang baru saja diucapkan sang kusir.
"Apa maksud bapak bicara begitu?"
"Apa Neng masih nggak menyadari jika kudaku beringas begini bukan karena faktor alami. Lihatlah dia begitu liar, seolah melihat' sesuatu yang membuatnya takut."
Mendengar kata-kata lelaki itu sontak aku mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru, namun tidak menemukan apapun
"Ta-ta-tapiiii ... Tidak ada apa-apa dan tidak ada siapa-siapa di sini," sahutku perlahan.
"Neng tidak akan pernah menemukan dan melihat siapa pun, karena pada dasarnya mereka tidak bisa dilihat dengan kasat mata kita sebagai manusia biasa."
Seketika tubuhku bergetar, bulu kudukku meremang.
Wushhh!
Sekelebatan angin malam berdesir, suskes membuat bulu roma di sekujur tubuh meremang sempurna. wajahku memucat dalam kegelapan malam.
“A-a-apakah yang Bapak maksud mereka adalah mahluk astral penghuni kegelapan?" tanyaku setengah tidak percaya.
Tubuhku sedikit mengerut, walau aku gadis berasal dari kota tapi aku termasuk pada golongan manusia yang mempercayai bahwa ada dunia lainyang berdampingan dengan dunia manusia.
“Hust! Hust! Hust!”
Kembali terdengar suara sang kusir yang berusaha membuat kudanya tenang, tak lagi memberontak liar.
"Tidak lama lagi kamu akan tau sendiri. Pesanku hati-hati di desa ini, jaga dirimu baik-baik. Ada yang mengincar nyawamu!'
"Arghhh!"
Baru saja ia selesai bicara, tiba-tiba teriakan keras terdengar. Kusir andong itu tak bisa lagi mengendalikan kudanya, tubuhnya terlihat terombang-ambing mengikuti laju lari kuda liar yang tak bisa dikendalikan sesuai keinginan majikannya.
Aku hanya bisa melihat mereka dari kejauhan saat andong itu berlalu menembus kepekatan gelapnya malam. Hanya terdengar derap kuda yang semakin lama semakin samar terdengar doi gendang telinga.
"Apa katanya tadi? Ada yang mengincar nyawaku? Rasanya tak mungkin, aku kan, hanya menantu dari salah satu warga di Kampung Ini, bukan penduduk asli. Lalu mengapa ada yang mengincar nyawaku. Aneh sekali! " gumamku perlahan.
Pertanyaan demi pertanyaan mengelayuti pikiranku.
"Hiiiii ...!"
Aku mengedikan bahu beberapa kali.
"Semoga tidak benar, semua hanya basa-basi saja dari kusir itu," batinku.
Aku berusaha menghibur diriku sendiri. Setidaknya berusaha menghalau rasa takut yang mulai menerkam jiwa.
"Banyak misteri! Nggak masuk akal banget. Dan gilanya bisa-bisanya Mas Arjuna meninggalkan aku sendiri di sini sementara dia entah raib kemana,” decihku kesal.
Sekali lagi aku mencari keberadaan suamiku, tetap seperti diawal, aku tak menemukan jejaknya.
**
Sejenak aku menatap rumah mertuaku yang tampak remang, hemat dari cahaya. Lampu penerangan jalan pun sama nasibnya, meremang tak jelas.
“Heran, apa isi rumah mertuaku tak ada orang, ya, kok bisa-bisanya ringkikan kuda sekeras itu tak bisa membuat satu pun penghuninya keluar rumah. Rasanya tak mungkin Mas Juna tak membaritahu ibunya jika kami akan datang, tapi, kok, tak ada sambutan sama sekali!’ batinku terus mengumam tak jelas.
Aku kembali memberanikan diri mencari suamiku, berjalan menyusuri halaman rumah mertuaku, mencari keberadaannya .
“Nggak ada juga dia, kemana sih lelaki itu!”
Kekesalanku semakin memuncak, aku sudah tidak bisa menahan kemarahan yang sejak tadi kupendam. Aku kesal karena merasa dipermainkan oleh suamiku sendiri.
“Mana rumah seperti tak ada penghuninya dan tak terawat, halaman kok banyak rumput begini, lagian Mas Arjuna kemana sih, berani-beraninya ninggalin aku sendirian. Sudah tau aku itu orangnya penakut. Mana kusir tadi bilang kalau kudanya melihat …!”
Gumamanku terputus serempak dengan langkah kakiku yang terhenti. Bukannya sosok suamiku yang terlihat oleh netra, tapi sebuah gubuk kecil di belakang rumah mertua. Gubuk yang sedikit kokoh dan terbuat dari papan.
Gubuk kecil itu hanya berukuran untuk satu orang, jika melihat ukurannya sepertinya gubuk itu tidak bersekat. Memiliki satu pintu, lampu temaram yang digunakan sebagai penerang mampu menembus dinding papan yang tak rapat.
“Gubuk apa itu?” batinku heran, aku mengerjapkan manik mata beberapa kali.
Kepalaku sedikit miring dengan mata terpicing, rasa penasaran mengalahkan rasa takut yang menjalari seluruh nadi.
Aku menguatkan hati melangkahkan kaki mendekat,” Siapa penghuni gubuk itu?’ gumamku penuh rasa penasaran.
Semakin tapak kakiku mendekat, semakin debar jantungku berdebar kencang. Kini aku tepat berdiri di depan pintu.
Entah mengapa tiba-tiba kekuatan tubuhku seperti melemah, dengkulku melemas, seolah kaki tak kuat menopang berat badan.
Dengan tangan gemetar, perlahan aku berusaha membuka pintu gubuk, namun belum saja niatku terlaksana tiba-tiba terdengar bunyi berdebam keras.
Blaammmm!
Pintu gubuk terbuka secara tiba-tiba, sontak secara refleks tubuhku terundur ke belakang, meloncat beberapa langkah.
“Ada apa ini?” gumamku panik.
Blammm!
Terdengar kembali bunyi debam pintu untuk kedua kali, dan kali ini pintu tertutup kembali.
Mataku membeliak lebar melihat kejadian itu, rasa herannya bercampur dengan rasa takut.
Bagaimana tidak, pintu gubuk itu bisa terbuka dan menutup sendiri, padahal netraku sama sekali tak melihat ada orang yang membuka dan menutup pintu. Rasa gugupku membuat aku meneguk saliva berulang kali.
“Ke-ke-kenapa bisa membuka dan menutup sendiri?’ gumamku terbata.
Sejenak aku mematung sebelum akhirnya memutuskan untuk melihat isi gubuk, rasa penasaranku benar-benar sudah sampai ubun-ubun.
“Ada apa dengan gubuk ini?” batinku.
Kreekkkkk!
Belum lagi tanganku membuka pintu gubuk, tiba-tiba pintu itu sudah terbuka sendiri, berderit perlahan.
Kreekkk! Kreek! Kreekk! Krekkk!
Dan aku dibuat jantungan saat melihat pintu gubuk seperti bermain-main, membuka dan menutup sendiri, mulai dari gerakan perlahan hingga bergerak cepat.
Kreek! Kreeekk! Kreekk!
Secara tak sengaja kepalaku bergerak ke sana-ke mari mengikuti gerak pintu yang berayun terbuka dan tertutup.
Kreeeekkkk!
Bunyi pintu berderit panjang, sebagai bunyi pamungkas karena tiba-tiba gerakan pintu terhenti dengan posisi pintu terbuka setengah.
Hening! Tak ada suara lagi, seiring berhentinya derit pintu, kini suara berisik kembali senyap.
Tap! Tap! Tap!
Hanya terdengar langkah kakiku yang pelahan mulai mendekat.
“Ada apa dengan gubuk ini, banyak kejadian aneh yang semakin membuatku penasaran,’ gumamku lirih.
Aku mengumpulkan kekuatan untuk kembali membuka pintu, ingin tau ada di dalam gubuk itu.
Kreekkkk!
Tepat di depan pintu, aku mendorongnya perlahan hingga daun pintu terbuka lebar membuatnya menempel di dinding gubuk.
Mataku membeliak dengan tubuh bergetar hebat menyaksikan sosok yang berada didalam gubuk itu. Wajahku memucat dan bibirku bergetar hebat.
“Si-si-siapa, kamu!” ujarku lirih dengan suara bergetar.
----

Komentar
Posting Komentar